Singkong/Tapioka: Indonesia Eksportir #3 Dunia yang Belum Menyadari Potensinya
Oleh Tim Riset ARM · 8 menit membaca
Posisi Indonesia di Pasar Dunia
Indonesia menempati posisi ke-3 sebagai eksportir tapioka di dunia, berada di belakang Thailand dan Vietnam. Ini bukan sekadar statistik — ini adalah cerminan dari kapasitas produksi yang sangat besar. Indonesia memproduksi sekitar 19 juta ton singkong per tahun, dengan Total Addressable Market global untuk tapioka mencapai USD 16.5 Miliar.
Serviceable Obtainable Market (SOM) untuk Indonesia diperkirakan mencapai USD 800 Juta — angka yang menempatkan tapioka sebagai salah satu komoditas dengan SOM terbesar dalam portofolio ARM, bersaing ketat dengan segmen rempah. Namun angka ini baru mencerminkan seberapa besar yang bisa diambil, bukan seberapa besar yang sudah diambil.
Paradoks: Besar tapi Belum Optimal
Thailand, pesaing utama Indonesia di pasar tapioka global, telah berhasil menggeser strategi ekspornya dari raw commodity ke modified starch — produk yang bernilai 3 hingga 4 kali lebih tinggi daripada tapioka mentah. Langkah ini bukan sekadar keberhasilan hilirisasi; ini adalah pergeseran strategis yang fundamental dalam cara Thailand memposisikan komoditasnya di pasar global.
Indonesia, meski memiliki volume produksi yang sebanding, masih didominasi oleh ekspor raw tapioka. Gap ini adalah paradoks yang sekaligus merupakan peluang besar untuk hilirisasi. Pertanyaannya bukan apakah Indonesia bisa mengikuti jejak Thailand — melainkan kapan dan siapa yang akan memimpin transisi tersebut.
Data Pasar: TAM Tapioka Global: USD 16.5 Miliar | SOM Indonesia: USD 800 Juta | Posisi: Eksportir #3 Dunia | Raw Tapioka: USD 0.40–0.50/kg | Modified Starch: USD 1.20–1.80/kg
Modified Starch Opportunity
Modified starch adalah produk turunan tapioka yang telah melalui proses modifikasi kimia atau fisika untuk meningkatkan sifat fungsionalnya. Produk ini digunakan secara luas di industri makanan dan minuman sebagai pengental dan stabilizer, di industri farmasi sebagai binder untuk tablet, di industri kertas sebagai surface sizing agent, dan di industri tekstil sebagai sizing agent untuk benang.
Disparitas harga cukup signifikan: raw tapioka diperdagangkan di kisaran USD 0.40 hingga 0.50 per kilogram, sementara modified starch dijual antara USD 1.20 hingga 1.80 per kilogram. Menariknya, investasi untuk membangun fasilitas produksi modified starch berskala kecil hingga menengah relatif terjangkau — berkisar antara USD 500.000 hingga 2 Juta untuk kapasitas 500-1.000 ton per bulan.
Strategi ARM
ARM memposisikan diri sebagai trading house untuk raw tapioka pada fase pertama (2026-2027). Fokus utama adalah membangun jaringan petani singkong di dua sentra produksi utama: Jawa Tengah dan Lampung. Jawa Tengah dipilih karena kedekatan geografis dengan tim ARM di Semarang, sementara Lampung dipilih karena volume produksi singkong yang secara konsisten masuk dalam tiga besar nasional.
Pada fase kedua (2027-2029), ARM akan mengeksplorasi kemitraan strategis dengan pengolah tapioka yang sudah memiliki kapasitas produksi modified starch atau yang berminat untuk masuk ke segmen tersebut. Model kemitraan ini memungkinkan ARM mengakses nilai tambah dari hilirisasi tanpa harus membangun kapasitas manufaktur sendiri di tahap awal.