ARM
← Anthropological Research
Anthropological ResearchMaret 2026

Farmer Share 20% vs 40%: Matematika di Balik Ketidakadilan Rantai Pasok

Oleh Tim Riset ARM · 10 menit membaca

Definisi Farmer Share

Farmer Share (FS) adalah metrik yang mengukur proporsi harga konsumen akhir yang benar-benar diterima oleh petani sebagai produsen. Formula dasarnya sederhana: Farmer Share = (Harga di Tingkat Petani ÷ Harga Konsumen Akhir) × 100%. Kesederhanaan formula ini kontras dengan kompleksitas dan dampak sosial yang tersembunyi di baliknya.

Contoh konkret: bawang merah dijual petani di tingkat kebun seharga Rp 8.000 per kilogram. Harga yang sama di supermarket mencapai Rp 40.000 per kilogram. Artinya Farmer Share = 20%. Delapan puluh persen dari nilai produk — Rp 32.000 per kilogram — tersebar di sepanjang rantai pasok antara petani dan konsumen. Pertanyaan kuncinya: apakah distribusi nilai ini adil dan efisien?

Mengapa 20-25%?

Rantai pasok tradisional Indonesia memiliki 3 hingga 5 lapisan intermediary yang masing-masing mengambil margin untuk menutupi biaya operasional dan mendapatkan keuntungan: tengkulak mengambil 15-25% karena menanggung risiko harga dan menyediakan cash advance; pedagang besar mengambil 10-20% untuk layanan agregasi dan penyimpanan; distributor mengambil 8-15% untuk logistik dan jangkauan distribusi; dan retailer mengambil 15-30% untuk biaya toko dan layanan konsumen.

Secara kumulatif, 75 hingga 80 persen nilai produk diserap oleh intermediary. Tidak semua ini adalah keuntungan murni — banyak yang merupakan biaya nyata dari sistem yang memang fragmentasi dan tidak efisien. Namun ini juga berarti bahwa sistem yang lebih efisien secara struktural bisa mendistribusikan lebih banyak nilai kepada produsen (petani) dan konsumen sekaligus.

Model ARM: Farmer Share tradisional: 20–25% | Target ARM Fase 1: 35% | Target ARM Fase 2: 40%+ | Potensi rempah premium: 60–70% | Lapisan intermediary rata-rata: 3–5 lapisan

Model ARM: Menuju 40%+

ARM mengeliminasi tengkulak dan pedagang besar dengan membeli langsung dari petani dan menjual langsung ke buyer akhir — eksportir, retailer modern, dan HORECA (Hotel, Restoran, Catering). Dengan memotong 2 hingga 3 lapisan intermediary, ARM memungkinkan redistribusi margin yang sebelumnya terserap di lapisan tengah kepada petani dalam bentuk harga beli yang lebih tinggi.

Target: Farmer Share minimum 40% untuk semua mitra petani ARM. Pada komoditas premium seperti vanila dan rempah organik bersertifikat, Farmer Share bahkan bisa mencapai 60 hingga 70% — karena buyer premium bersedia membayar harga yang sangat tinggi untuk kualitas dan ketertelusuran (traceability) yang terjamin.

Timeline Menuju 40%

Fase 1 (2026): ARM menargetkan minimum Farmer Share 35% untuk komoditas pilot — buncis dan rempah. Ini adalah langkah pertama yang realistis dan terukur: meningkatkan 10-15 poin persentase dibandingkan sistem tradisional melalui eliminasi satu lapisan intermediary utama (tengkulak) dan membangun hubungan langsung dengan buyer.

Fase 2 (2027): Dengan dukungan data AI untuk penetapan harga yang transparan dan real-time, ARM menargetkan Farmer Share 40%+. AI memungkinkan transparansi harga pasar yang sesungguhnya kepada petani — menghilangkan informasi asimetris yang selama ini menjadi sumber kekuatan tengkulak. Fase 3 (2028+): Farmer Share 50%+ melalui platform digital yang mempertemukan petani langsung dengan buyer internasional, sepenuhnya melewati semua lapisan intermediary domestik.