- Berkas
- No. 040
- Rubrik
- Commodities Updates
- Terbit
Gula dunia tembus 20 sen per pon: hujan di Brasil, kemarau di Thailand, dan bayang El Niño

Gula jarang menjadi berita utama — sampai harganya bergerak seperti sekarang. Pada 7 Oktober 2026, kontrak berjangka gula AS berada di atas 20 sen per pon, tertinggi sejak Februari 2025, naik lebih dari 8 persen pada Oktober saja dan sekitar 40 persen sejak Juli. Sepekan sebelumnya, 30 September, harga masih 19,11 sen.
Penyebabnya bukan satu, melainkan antrean masalah cuaca. Di Brasil Tengah-Selatan, hujan menunda penggilingan tebu sehingga produksi gula diperkirakan turun; sebagian tebu bahkan mungkin digiling pada musim berikutnya, memperpanjang musim giling hingga akhir Februari atau awal Maret. Di India, monsun yang lemah mengancam hasil tebu. Di Thailand, kekeringan di sentra produksi menekan panen — proyeksi yang dikutip pada 1 Oktober menyebut produksinya turun setidaknya 17 persen ke bawah 10 juta ton. Di Eropa, musim panas yang terik diperkirakan menghasilkan panen bit gula terburuk dalam lebih dari satu dekade, dengan produksi Uni Eropa turun 19 persen.
Di atas semuanya, ada El Niño. FAO menyebut kekhawatiran akan El Niño yang parah sebagai pendorong harga gula internasional ke level tertinggi dalam 18 bulan pada September, dengan indeks gula FAO naik 6,1 persen — kenaikan bulanan ketiga berturut-turut. Lembaga StoneX memperkirakan defisit gula dunia 900.000 ton pada 2026/27, karena produksi Thailand, India, dan Uni Eropa lebih rendah.
Pelajaran bagi agribisnis: cuaca adalah risiko pasokan yang paling sulit dilindungi nilai. Ketika produsen terbesar dunia — Brasil, India, Thailand — mengalami masalah di musim yang sama, harga bergerak lebih cepat daripada kontrak jangka panjang, dan pembeli yang masih bernegosiasi dengan patokan harga bulan lalu akan tertinggal.
Sumber data
Angka dalam tulisan ini dikutip dari sumber berikut sesuai tanggal terbitnya. Data dapat diperbarui oleh penerbitnya.




