Lompat ke konten utama
Masuk
Berkas
No. 052
Rubrik
Commodities Updates
Terbit

Rp20 ribu di kandang, Rp40 ribu di konsumen: Amran tuding perantara, Bapanas borong telur peternak Solo

Enam butir telur ayam cokelat dalam wadah karton hijau, satu di antaranya terbelah menampakkan kuning telur
Foto: Krzysztof Golik melalui Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Kamis, 8 Oktober 2026. Di kantor Badan Pangan Nasional (Bapanas) digelar gerakan "Bela Beli Telur Peternak", melibatkan pegawai Bapanas dan Kementerian Pertanian, ID FOOD, dan Perum Bulog. Yang dibeli: 4,5 ton telur dari sembilan peternak kecil dan menengah di Solo, Jawa Tengah, dengan harga Rp24.000 per kilogram, dijual di kompleks Kementerian Pertanian, Jakarta. Harga di kandang Solo, menurut Agus Waryanto dari Koperasi Jasa Pinsar Petelur Nasional (KJPPN), Rp22.500 per kilogram. Bapanas membantu pengangkutan dan kemasan lewat Fasilitasi Distribusi Pangan.

Skalanya kecil, dan pejabat Bapanas mengakuinya. Direktur Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga Pangan Indra Wijayanto mengatakan pembelian ini bisa diikuti kementerian dan lembaga lain. Lewat jalur Fasilitasi Distribusi Pangan yang sama, 5.040 kg telur dari Blitar sudah dikirim ke Kabupaten Bekasi hingga 2 Oktober.

Empat hari kemudian, Senin 12 Oktober, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Kemendagri, Jakarta, Andi Amran Sulaiman membuka angka yang lebih keras. Menurut Menteri Pertanian yang juga Kepala Bapanas itu, harga di peternak Rp20.000–Rp21.000 per kilogram, sedangkan di konsumen bisa Rp40.000–Rp45.000. Ia menyebut dugaan permainan harga oleh perantara (middleman) dan mengaku sudah bersurat kepada Kapolri agar ditindaklanjuti bersama aparat penegak hukum.

Angka-angka itu perlu dibaca hati-hati. Data harga resmi lebih rendah: pada 9 Oktober, PIHPS Bank Indonesia mencatat telur ayam ras segar rata-rata nasional Rp29.200 per kilogram, turun 2,18 persen hari itu. Selisih antara kandang dan konsumen mencakup angkutan, sortasi, dan margin pedagang yang sah, dan harga konsumen tertinggi di satu titik tidak sama dengan rata-rata nasional. Berapa bagian selisih itu yang wajar dan berapa yang janggal adalah pertanyaan yang akan dijawab oleh penelusuran, bukan oleh angka harian.

Yang jelas, ceritanya mirip dengan yang berulang sejak pertengahan tahun: produksi melimpah, harga kandang di bawah acuan, dan rantai tengah yang tebal. Gerakan beli langsung seperti Bela Beli Telur bekerja sebagai isyarat, bukan solusi — 4,5 ton sangat kecil dibanding produksi telur nasional. Bagi peternak dan pedagang, pelajarannya: hubungan jual-beli yang langsung dan terikat perjanjian adalah satu-satunya jalan memotong rantai itu tanpa menunggu kebijakan.

Sumber data

Angka dalam tulisan ini dikutip dari sumber berikut sesuai tanggal terbitnya. Data dapat diperbarui oleh penerbitnya.

  1. Koran Jakarta — Bapanas Bongkar Biang Kerok Harga Ayam-Telur: Middleman Mainkan Harga 100 Persen! (12 Oktober 2026)
  2. InfoEkonomi — Bapanas Gelar Gerakan Bela Beli Telur, Serap 4,5 Ton Hasil Peternak Solo (12 Oktober 2026)
  3. Fortune Indonesia — Harga Pangan Hari Ini, 9 Oktober 2026: Cabai Rawit Capai Rp101.350 per Kg (9 Oktober 2026)

Berita lainnya

Butuh Bantuan?