- Berkas
- No. 012
- Rubrik
- Commodities Updates
- Terbit
Harga telur puyuh berayun tajam, telur ayam ras merangkak naik

Pasar telur memasuki September dengan arah yang berbalik dari pertengahan tahun. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada pekan kedua September 2026 Indeks Perkembangan Harga telur ayam ras naik 0,79 persen, dengan kenaikan terjadi di 153 dari 360 kabupaten/kota yang dipantau. Rerata harga nasional berada di sekitar Rp29.489 per kilogram — masih di bawah harga acuan, tetapi naik untuk bulan kedua berturut-turut. Pada pekan yang sama, harga daging ayam ras naik 3,04 persen di 227 kabupaten/kota dengan rerata Rp41.935 per kilogram, sudah melampaui harga acuan Rp40.000.
Telur puyuh bergerak jauh lebih liar. Awal Juli lalu, peternak di Kota Batu, Jawa Timur, melaporkan harga di tingkat kandang jatuh ke Rp18.500 per kilogram, sementara biaya pokok produksi mereka Rp25.000–Rp26.000 per kilogram — rugi Rp4.000–Rp5.000 untuk setiap kilogram yang terjual. Hanya beberapa pekan sebelumnya, selepas Iduladha, harga yang sama sempat menyentuh Rp40.000 per kilogram. Menurut peternak setempat, harga yang masih memberi ruang untung berada di kisaran Rp28.000–Rp30.000 per kilogram.
Ayunan itu punya beberapa penyebab yang datang bersamaan. Harga tinggi selepas Iduladha menarik peternak baru masuk dan menambah pasokan, termasuk kiriman dari sentra Blitar, tepat ketika libur sekolah memangkas permintaan dari pedagang jajanan — salah satu kanal serapan terbesar telur puyuh. Pada saat yang sama, biaya pakan terus naik, sehingga ruang antara harga jual dan biaya produksi makin sempit bahkan ketika harga sedang baik.
Bagi rantai puyuh, pelajarannya jelas: telur puyuh adalah pasar yang tipis. Sedikit kelebihan pasokan cukup untuk menjatuhkan harga, dan berbeda dengan telur ayam ras, belum ada instrumen stabilisasi harga dari pemerintah yang menopangnya. Kenaikan harga telur ayam ras dan daging ayam saat ini bisa mendorong sebagian konsumen mencari sumber protein lain, tetapi pengaruhnya ke permintaan telur puyuh tidak otomatis dan tidak layak dijadikan pegangan.
Grup menyikapinya dengan memegang dua hal. Pertama, serapan yang terikat perjanjian lebih berharga daripada harga puncak sesaat, sehingga pembelian kami tetap bertumpu pada kesepakatan dengan mitra penyerap, bukan pada harga pasar harian. Kedua, kami memantau harga kandang dan harga di tingkat pedagang secara berkala, agar setiap perubahan arah terbaca sebelum menjadi kerugian.
Sumber data
Angka dalam tulisan ini dikutip dari sumber berikut sesuai tanggal terbitnya. Data dapat diperbarui oleh penerbitnya.




