- Berkas
- No. 006
- Rubrik
- Economy Updates
- Terbit
Inflasi naik ke 3,19 persen, BI menahan suku bunga di 5,75 persen

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi tahunan Agustus 2026 sebesar 3,19 persen, naik dari 2,31 persen pada Agustus 2025. Secara bulanan harga naik 0,21 persen, dan sepanjang tahun berjalan 1,86 persen. Angka ini masih berada di dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5±1 persen, tetapi sudah mendekati batas atasnya.
Pangan menjadi pendorong utama. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 3,86 persen secara tahunan dan menyumbang 1,13 poin persentase — sekitar sepertiga dari seluruh inflasi. Inflasi inti, yang tidak memasukkan harga pangan bergejolak dan harga yang diatur pemerintah, berada di 2,92 persen. Setelah turun dari 3,34 persen pada Juni ke 2,88 persen pada Juli, inflasi kembali naik pada Agustus.
Dalam Rapat Dewan Gubernur 18–19 Agustus 2026, Bank Indonesia menahan BI-Rate di 5,75 persen, suku bunga Deposit Facility di 4,75 persen, dan Lending Facility di 6,50 persen — tingkat yang sama sejak Juli, setelah kenaikan kumulatif 100 basis poin pada Mei–Juni. BI menyebut keputusan itu untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas global akibat perang di Timur Tengah, yang ikut mendorong harga minyak dan komoditas. Di sisi pertumbuhan, ekonomi tumbuh 5,29 persen pada kuartal II 2026, melambat dari 5,61 persen pada kuartal I, sementara kredit perbankan tumbuh 13,58 persen pada Juli.
Bagi agribisnis, kondisi ini bekerja dari dua sisi. Inflasi pangan memang cenderung mengangkat harga jual produk, tetapi biaya input — pakan, energi, dan angkutan — biasanya naik lebih dulu dan lebih cepat. Sementara itu suku bunga yang tinggi membuat modal kerja dari pinjaman bank tetap mahal. Usaha dengan perputaran cepat dan kebutuhan modal kerja besar, seperti perdagangan telur, adalah yang paling merasakan keduanya.
Rapat Dewan Gubernur berikutnya dijadwalkan 22–23 September 2026, dan arahnya akan banyak ditentukan oleh pergerakan rupiah dan suku bunga global. Grup menyusun proyeksi arus kas dengan asumsi suku bunga tetap tinggi hingga akhir tahun, dan tidak menggantungkan rencana usaha pada penurunan suku bunga yang belum pasti.
Sumber data
Angka dalam tulisan ini dikutip dari sumber berikut sesuai tanggal terbitnya. Data dapat diperbarui oleh penerbitnya.




