- Berkas
- No. 037
- Rubrik
- Economy Updates
- Terbit
Kredit bank melaju 13,65 persen ke Rp9.178 triliun, tetapi UMKM hanya tumbuh 2,38 persen

Pada konferensi pers hasil penilaian RDKB September, Senin 5 Oktober 2026, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan bahwa pertumbuhan kredit pada Agustus 2026 naik ke 13,65 persen secara tahunan. Total kredit mencapai Rp9.178 triliun, dibanding Rp9.135 triliun (13,58 persen) pada Juli. Dana pihak ketiga tumbuh 10,94 persen menjadi Rp10.413 triliun, jadi kredit tumbuh lebih cepat daripada simpanan.
Peta pertumbuhannya tidak merata. Menurut jenis penggunaan, kredit investasi tumbuh 25,11 persen, modal kerja 11,45 persen, dan konsumsi 5,07 persen. Menurut debitur, kredit korporasi tumbuh 22,18 persen, sedangkan UMKM hanya 2,38 persen. Bank BUMN memimpin dengan 16,41 persen.
Kualitas kredit tetap terjaga walau mulai bergerak: NPL bruto 2,11 persen dan NPL neto 0,84 persen, dengan rasio kredit berisiko (LAR) 8,56 persen yang disebut membaik. Laba atas aset (ROA) 2,43 persen. Kredit pay-later (BNPL) mencapai Rp31,41 triliun, atau 0,34 persen dari total pembiayaan bank, tumbuh 29,10 persen dengan 34 juta rekening.
Bandingkan dengan proyeksi Bank Indonesia yang hanya 8–12 persen untuk kredit sepanjang 2026: penyaluran sudah di atasnya, sementara BI-Rate dipertahankan tinggi di 5,75 persen. Artinya uang mengalir, tetapi mengalir ke arah yang terbatas: korporasi dan investasi.
Bagi peternak, pedagang komoditas, dan pelaku usaha kecil di rantai pangan, jurang 22,18 berbanding 2,38 persen adalah alasan untuk tidak menunggu pintu bank terbuka lebar. Pembiayaan perputaran yang terikat perjanjian dengan mitra penyerap, serta koperasi dan asosiasi sebagai penyalur, kemungkinan tetap menjadi jalur yang lebih realistis daripada mengandalkan pertumbuhan kredit agregat.
Sumber data
Angka dalam tulisan ini dikutip dari sumber berikut sesuai tanggal terbitnya. Data dapat diperbarui oleh penerbitnya.




