- Berkas
- No. 032
- Rubrik
- Economy Updates
- Terbit
Inflasi zona euro melonjak ke 3,8 persen: energi naik 18,8 persen, sementara harga pangan nyaris tenang

Pada 2 Oktober 2026, kantor statistik Uni Eropa Eurostat merilis estimasi cepat inflasi zona euro: 3,8 persen pada September, naik dari 3,2 persen pada Agustus. Energi menjadi pendorong terbesar, dengan harga naik 18,8 persen secara tahunan dibanding 14,3 persen sebulan sebelumnya.
Komponen lain jauh lebih jinak. Inflasi jasa 3,2 persen (dari 3,0 persen), makanan, alkohol, dan tembakau 1,4 persen (dari 1,1 persen), dan barang industri nonenergi hanya 1,1 persen, satu-satunya komponen yang melambat dari 1,2 persen. Inflasi inti, di luar energi dan pangan, 2,5 persen dari 2,4 persen. Di negara besar, inflasi September tertinggi di Spanyol (5 persen), disusul Italia (4,1 persen), Prancis (3,4 persen), dan Jerman (3,3 persen).
Bank Sentral Eropa sudah bergerak sebelum angka ini keluar. Pada 10 September ECB menaikkan tiga suku bunga utamanya 25 basis poin, kenaikan kedua tahun ini, dan mempertahankan perkiraan inflasi 2026 di 3 persen, sambil menaikkan perkiraan 2027 menjadi 2,5 persen dan 2028 menjadi 2,1 persen dibanding proyeksi Juni.
Ceritanya mirip dengan yang tampak dari Brent yang bertahan di atas US$100 dan keputusan Eropa melepas cadangan diesel pada hari yang sama: harga energi menekan lebih dulu, sementara harga pangan di benua itu belum ikut. Terpisah dari itu, FAO mencatat permintaan Uni Eropa terhadap daging unggas turun setelah aturan impor baru berlaku.
Bagi eksportir pangan Indonesia, Eropa adalah pasar yang bunga dan daya belinya sedang diuji sekaligus. Ketika energi membuat rumah tangga menekan belanja lain, produk bernilai tinggi seperti kopi, kakao, dan minyak nabati menghadapi pembeli yang lebih berhitung — dan itu layak dibaca sebagai risiko permintaan, bukan sekadar angka inflasi di benua lain.
Sumber data
Angka dalam tulisan ini dikutip dari sumber berikut sesuai tanggal terbitnya. Data dapat diperbarui oleh penerbitnya.




