- Berkas
- No. 009
- Rubrik
- Commodities Updates
- Terbit
Jagung dan bungkil kedelai menekan biaya pakan unggas

Pakan — pos biaya terbesar di peternakan unggas petelur — sedang tertekan dari dua arah sekaligus. Per 7 September 2026, rerata harga jagung pakan nasional tercatat Rp5.922 per kilogram, di atas harga pembelian pemerintah Rp5.500. Rentangnya lebar: Lampung mencatat harga tertinggi di Rp6.600 per kilogram, sementara Sumatera Utara terendah di Rp5.437 per kilogram.
Tekanan yang lebih berat datang dari bungkil kedelai (soybean meal/SBM), sumber protein utama pakan yang pasokannya bergantung pada impor. Peternak ayam petelur di Sumatera Utara melaporkan harga SBM kini Rp10.000–Rp11.250 per kilogram, dibandingkan Rp6.000–Rp7.000 ketika impor masih bisa dilakukan banyak pedagang swasta. Pada Mei lalu harganya masih di sekitar Rp8.500 per kilogram. SBM mengisi sekitar 20–30 persen formula pakan unggas, sehingga kenaikannya langsung terasa di harga pakan jadi.
Pelaku usaha menyebut tiga penyebab kenaikan SBM: kurs dolar yang tinggi, harga di pasar global, dan kebijakan impor satu pintu melalui BUMN PT Berdikari yang berlaku sejak 1 Januari 2026 dan dinilai mempersempit sumber pasokan. Untuk jagung, pemerintah menambah alokasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 150 ribu ton, dijual Rp5.000 per kilogram di gudang Bulog dan paling tinggi Rp5.500 di tingkat peternak, dengan prioritas peternak skala mikro, kecil, dan menengah. Hingga 7 September, 143.500 ton jagung SPHP telah tersalur ke 33 provinsi.
Pakan puyuh disusun dari bahan baku yang sama — jagung sebagai sumber energi dan bahan seperti SBM sebagai sumber protein — sehingga kenaikan ini langsung menaikkan biaya pokok per butir telur. Ketika harga jual di kandang sedang jatuh, seperti yang terjadi pada Juli, peternak menghadapi himpitan ganda: biaya naik sementara pendapatan turun. Peternak kecil yang membeli pakan dalam jumlah kecil paling rentan, karena tidak punya daya tawar maupun stok penyangga.
Grup memperlakukan harga pakan sebagai variabel yang bergerak, bukan angka tetap, dalam setiap perhitungan usaha dan skema kemitraan. Kami memantau realisasi penyaluran jagung SPHP di wilayah mitra produsen, dan meninjau ulang asumsi biaya setiap kali harga jagung atau SBM bergeser cukup jauh dari perkiraan sebelumnya.
Sumber data
Angka dalam tulisan ini dikutip dari sumber berikut sesuai tanggal terbitnya. Data dapat diperbarui oleh penerbitnya.




