- Berkas
- No. 030
- Rubrik
- Economy Updates
- Terbit
Pabrik Indonesia kembali berekspansi: PMI manufaktur melompat ke 52,4, pesanan ekspor tumbuh tercepat sejak 2022

Pada 1 Oktober 2026, survei S&P Global menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia naik ke 52,4 pada September dari 49,8 pada Agustus. Angka di atas 50 berarti ekspansi, dan kali ini seluruh lima komponen indeks ikut menyumbang positif. Ekonom S&P Global Market Intelligence Trevor Balchin menyebutnya perbaikan terkuat sejak Februari — sesaat sebelum konflik Timur Tengah pecah.
Rinciannya cerita yang jarang dijumpai sekaligus: pesanan baru tumbuh tercepat sejak Februari, pesanan ekspor naik dua bulan berturut-turut dengan laju tercepat sejak Mei 2022, dan produksi naik tercepat sejak Februari berkat permintaan pelanggan, proyek baru, daya beli yang membaik, dan lini produk yang lebih luas. Pabrik menambah pekerja untuk ketiga kalinya tahun ini, tercepat sejak Februari 2025, tetapi kapasitas masih tertinggal dari beban kerja: pekerjaan yang belum selesai bertambah paling kuat dalam lima tahun.
Gudang kian lengang. Stok barang jadi turun paling cepat sejak Agustus 2020, sementara pembelian bahan baku naik tercepat sejak Februari. Kabar baik lain datang dari harga: inflasi biaya input turun ke level terendah enam bulan, walau masih di atas rata-rata jangka panjang, dan harga jual naik paling lambat dalam enam bulan. Produsen memperkirakan produksi setahun ke depan tetap naik, dengan harapan harga bahan baku lebih stabil.
Bagi rantai pangan, pabrik yang ramai berarti dua hal. Permintaan terhadap bahan baku — dari kemasan hingga bahan olahan — cenderung ikut menguat. Dan bila lapangan kerja bertambah, daya beli rumah tangga untuk protein seperti telur dan ayam punya alasan untuk ikut membaik, meski satu survei sebulan belum cukup untuk menyebutnya tren.
Sumber data
Angka dalam tulisan ini dikutip dari sumber berikut sesuai tanggal terbitnya. Data dapat diperbarui oleh penerbitnya.




