- Berkas
- No. 013
- Rubrik
- Economy Updates
- Terbit
The Fed naikkan suku bunga untuk pertama kali dalam tiga tahun, dolar menguat di seluruh papan

Rabu, 16 September 2026, Komite Pasar Terbuka Federal Reserve memutuskan menaikkan kisaran target suku bunga dana federal sebesar seperempat poin persentase menjadi 3,75–4,00 persen, dari 3,50–3,75 persen. Suaranya bulat, 12–0. Dalam pernyataannya, komite menulis bahwa inflasi masih tinggi dan langkah ini akan mendukung kembalinya inflasi ke sasaran 2 persen lebih cepat. Di sisi lain, pertambahan lapangan kerja disebut sejalan dengan angkatan kerja dan tingkat pengangguran berubah sedikit.
Keputusan itu bukan kejutan: pasar sudah menaruh peluang sekitar 90 persen untuk kenaikan sebelum pengumuman. Yang menarik adalah reaksinya. Dolar AS menguat di hampir semua mata uang, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 4 basis poin dan tenor 30 tahun turun 5 basis poin, sebagian dibantu harga minyak. Pasar juga menaikkan taruhan tambahan kenaikan tahun ini sedikit, ke setara 28 basis poin dari 26.
Efeknya terasa jauh dari Washington. Hanya enam hari kemudian, 22 September, rupiah ditutup Rp17.855 per dolar AS, melemah 0,78 persen dibanding akhir Agustus, dan Bank Indonesia menyebut tekanan itu datang dari ketidakpastian global yang meningkat. BI menahan BI-Rate di 5,75 persen dan menambah intervensi.
Bagi agribisnis Indonesia, rantai sebabnya mudah ditelusuri meski panjang. Suku bunga AS yang naik menguatkan dolar; dolar yang kuat membuat bahan pakan, bibit, dan obat yang dibeli dalam dolar makin mahal dalam rupiah; dan bunga domestik yang bertahan tinggi membuat pembiayaan impor itu makin berat. Karena itu keputusan sebuah komite di Washington layak dibaca oleh siapa pun yang membeli barang impor di Surabaya atau Medan.
Sumber data
Angka dalam tulisan ini dikutip dari sumber berikut sesuai tanggal terbitnya. Data dapat diperbarui oleh penerbitnya.




